Read a poem from isham of tukartiub, and really touched by it.

KESAH AJANG CERITA KITA

adalah dikesahkan
ajang pun dilahirkan

lalu ajang dibesarkan
lalu ajang disekolahkan
lalu ajang diuji dan dipereksa
lalu ajang lulus ujian

gembiralah satu keluarga
gembiralah ajang se ajang-ajnangnya

ajang pun belajar lagi
diuji dan diperiksa
ajang pun luluslah

ajang pun dilamar bekerja
maka bekerjalah ajang
berbaris dan beratur dijalan raya
bangun dari tidor untuk menjual tenaga

sebulan sekali menerimah upah
lalu ajang membeli tv
untuk rehat dan bersenang hati

setiap hari beratur berbaris dijalan raya
bangun untuk menjual tenaga
dihujung minggu ajang berehat buntang mata menonton tv

duit terkumpul lagi
lalu membeli kereta sebelum mencari bini
berbaris beratus dijalan raya
bagun dari tidor untuk menjual masa dan tenaga
agar dapat bayar hutang kereta dan rumah sewa

lalu ajang pun berbinilah
bangun pagi berasak asak menjual tenaga
untuk membayar kereta dan rumah sewa
lalu ajang dan isteri menjadi cerdik
tak perlu bayar sewa kalau rumah dimiliki
lalu mereka berhutang lagi
untuk membayar kereta dan hutang bank
lalu mereka bangun pagi
berasak asak di jalan raya untuk memburuh
dan mengumpul duit nak jadi kaya

adalah dikesahkan
anak pun lahir dan dibesarkan
lalu anak di anjangkan sekali lagi
lalu anak diajar agar dia pun bangun pagi
bangun berasak-asak dijalan raya bersedia cekap
bijak pandai untuk menjadi hamba kepada kerja

akhirnya anjang tua dan hendak mati
anjang terlantar dikatil
lalu anjang teringat
sebuah buku cinta yang dibelinya tetapi lupa tidak dibaca
lalu anjang teringat sekuntum bunga mawar
yang dia terlupa baunya
lalu anjang teringat sebuah pantai landai
sebuah tasik permai sebuah gunung berhutan
saekor burung belibis terbang menyambar

lalu dia teringat gesekan biola
dan tiupan seruling sawah dan gaung
hutan dan pacat

ajang memanggil anak datang
ingin menyampai pesan
lalu mereka pun berkumpul
ajang hanya sempat berkata – jangan jadi bodoh –
semua tercengang semua hairan
mereka menangis
ajang telah hilang ingatan.

ajang mengulangi lagi – jangan jadi bodoh – lalu anjang mati

esoknya anak dan isteri bagun pagi pagi
berasak asak di jalan raya entah apa hendak dicari
mengulangi hidup berpusing-pusing
tak pernah sedar diri
hilang ingatan jadi injin bangun pagi
untuk beli kereta rumah dan tv

-end-

What I’ve done with my life?

RM360,000 on 10 year working bond+RM55,000 of hire purchase commitment+RM240,000 of housing loan+credit cards

Total debt: RM655,000 of debt (A)

If I die today, I’ll transfer RM360,000 (of 10 year working commitment) to the 2 guarantors who guaranteed my scholarship.

As I took insurance on all credit card, all the purchases advances will be written off.

The car will be repossessed and the remaining interest will be written off by the bank.

MRTA insurance will spare the house to my immediate family, of which will eventually be liquidated as to cover the penalty on the bond.

One life insurance policy will give my immediate family RM120,000.

Net worth upon dying point:

Total debt                                                                  RM655,000

Less: Receivables and write off

MRTA insurance                                 RM240,000

Liquidate house to repay bond              RM240,000

Hire purchase write-off                        RM  55,000

Life insurance to repay bond                RM120,000     (RM655,000)

                                                                                   RM            0

 

I will leave nothing to my generation. RM0, kosong, hapak, habuk pon tarak.

But why I opted for the study? Why do I wake up in the wee morning, queuing like crazy at Jln Kuching, scramble with others for a parking space at Sekolah or Padang Merbok, let myself being scolded like a dog from 9 to 5, and queuing like crazy again at Jln Kuching enroute to Jln Ipoh, only to repeat the same f*cking cycle for the next 30 years or so?

I don’t know. I guess I am just another stupid person.